
Bagi siapa pun yang pernah mengunjungi Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, satu pemandangan yang hampir selalu terlihat adalah kehadiran burung-burung merpati. Mereka beterbangan di sekitar pelataran, hinggap di atap bangunan, atau berjalan di antara para jamaah. Menariknya, meski jumlahnya sangat banyak, burung-burung ini jarang terlihat mengganggu orang yang sedang beribadah.
Banyak yang mengira keberadaan merpati di Tanah Suci hanyalah kebetulan. Padahal, dari sudut pandang ilmu biologi, burung merpati memang memiliki kemampuan luar biasa untuk mengenali lokasi tempat tinggalnya. Mereka mampu kembali ke tempat yang sama berulang kali berkat kombinasi daya ingat visual, posisi matahari, medan magnet bumi, hingga kemampuan mengenali bentang alam di sekitarnya.
Selain itu, lingkungan di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi juga mendukung keberadaan mereka. Area yang luas, banyak tempat bertengger, serta ketersediaan sumber air menjadikan kawasan ini sebagai habitat yang nyaman bagi burung merpati. Pengelolaan lingkungan yang baik juga membantu menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan kehidupan satwa di sekitar masjid.
Hal yang menarik adalah perilaku burung-burung tersebut. Merpati termasuk hewan yang mampu beradaptasi dengan keramaian. Setelah terbiasa dengan lalu-lalang jutaan jamaah setiap tahun, mereka tidak mudah panik terhadap keberadaan manusia. Karena itulah, banyak jamaah dapat melihat burung-burung ini tetap tenang meski berada di tengah pelataran yang ramai.
Dalam sejarah Islam, merpati juga sering dikaitkan dengan kisah hijrah Rasulullah ﷺ di Gua Tsur. Meski kisah tentang burung merpati yang membuat sarang di mulut gua populer di kalangan masyarakat, para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan riwayat tersebut. Oleh karena itu, kisah hijrah yang pasti dan disebutkan dalam Al-Qur’an tetap menjadi pegangan utama, sedangkan kisah merpati tidak dijadikan dasar keyakinan.
Bagi banyak jamaah, kehadiran burung merpati memberikan suasana yang khas di Tanah Suci. Burung-burung yang beterbangan dengan latar Ka’bah atau Masjid Nabawi sering menjadi pemandangan yang menenangkan. Meskipun demikian, jamaah tetap dianjurkan untuk menjaga kebersihan dan tidak memberi makan burung di area yang memang memiliki aturan khusus dari pengelola masjid.
Pada akhirnya, burung merpati di Tanah Suci mengajarkan bahwa kehidupan di sekitar masjid tidak hanya dipenuhi oleh manusia yang beribadah, tetapi juga makhluk ciptaan Allah lainnya yang hidup berdampingan. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa seluruh alam semesta berada dalam kekuasaan Allah SWT, dan setiap makhluk memiliki perannya masing-masing di bumi.
Mungkin karena itulah, bagi sebagian orang, melihat burung-burung merpati beterbangan di atas Masjidil Haram atau Masjid Nabawi bukan sekadar pemandangan yang indah, tetapi juga momen yang menambah rasa tenang dan syukur selama berada di Tanah Suci.

