
Kalau melihat lanskap Makkah dari kejauhan, salah satu hal yang langsung mencuri perhatian adalah deretan pegunungan yang mengelilingi kota. Berbeda dengan pegunungan hijau yang sering kita lihat di Indonesia, gunung-gunung di Makkah didominasi warna cokelat, abu-abu, hingga hitam. Pemandangan ini bukan sekadar karakter visual, tetapi merupakan hasil dari proses geologi yang berlangsung sangat panjang.
Secara geologi, Makkah berada di bagian barat Arabian Shield, kawasan batuan dasar yang sangat tua dan terbentuk dari aktivitas geologi selama ratusan juta tahun. Batuan yang menyusun wilayah ini didominasi oleh batuan beku dan metamorf, termasuk granit dan batuan vulkanik. Proses pembentukan dan perubahan batuan tersebut ikut menentukan warna serta tekstur pegunungan yang terlihat sampai sekarang.
Lalu, mengapa warnanya cenderung gelap? Salah satu penyebabnya adalah keberadaan mineral tertentu dalam batuan. Batuan yang kaya mineral seperti biotit, hornblende, atau mineral mafik lainnya dapat menghasilkan warna yang lebih gelap. Sementara batuan granit yang memiliki kandungan mineral berbeda dapat terlihat lebih terang, sehingga kita bisa menemukan variasi warna dari abu-abu hingga cokelat di pegunungan sekitar Makkah.
Kondisi iklim juga ikut berperan. Makkah memiliki iklim gurun dengan curah hujan yang relatif rendah. Vegetasi yang tumbuh di kawasan pegunungan pun terbatas, sehingga permukaan batuan terlihat jauh lebih terbuka. Tidak seperti pegunungan tropis yang tertutup pepohonan dan tanah, batuan di sekitar Makkah lebih mudah terlihat secara langsung.
Menariknya, warna gelap pada pegunungan Makkah juga berkaitan dengan sejarah aktivitas vulkanik di wilayah Hijaz. Kawasan Arab bagian barat memiliki sejumlah medan lava yang dikenal sebagai harrat. Hamparan batuan vulkanik tersebut menjadi salah satu bukti bahwa wilayah ini pernah mengalami aktivitas magma dan letusan gunung berapi pada masa geologis maupun sejarah yang lebih dekat.
Namun, tidak semua gunung di sekitar Makkah berwarna sama. Perbedaan jenis batuan, kandungan mineral, tingkat pelapukan, serta pencahayaan dapat membuat satu pegunungan terlihat lebih gelap sementara yang lain tampak kecokelatan atau keabu-abuan. Bahkan, warna yang sama bisa terlihat berbeda ketika terkena cahaya matahari pagi, siang, atau menjelang matahari terbenam.
Bagi jamaah, mungkin selama ini pegunungan tersebut hanya menjadi pemandangan yang mengiringi perjalanan menuju Masjidil Haram. Padahal, setiap batu di sana menyimpan cerita tentang perjalanan bumi yang jauh lebih tua daripada sejarah manusia. Sebelum Makkah menjadi kota yang dipenuhi bangunan dan jutaan jamaah, kawasan ini telah mengalami proses pembentukan geologi yang berlangsung dalam rentang waktu yang luar biasa panjang.
Pada akhirnya, melihat pegunungan Makkah dari sudut pandang geologi membuat kita menyadari bahwa Tanah Suci bukan hanya kaya akan sejarah peradaban dan spiritualitas. Bentang alamnya pun menyimpan cerita yang luar biasa. Di balik warna cokelat dan hitam yang tampak sederhana, ada jutaan tahun proses bumi yang menjadikan Makkah seperti yang kita kenal hari ini. 🏔️🕋

