
Madinah dikenal sebagai kota yang tenang, penuh sejarah, dan menjadi tempat Rasulullah ﷺ menjalani bagian penting dari kehidupan beliau. Namun, di balik suasana kotanya yang begitu khas, ternyata Madinah menyimpan fakta geologi yang cukup mengejutkan: kawasan di sekitar kota ini berada dekat dengan hamparan batuan lava hasil aktivitas vulkanik. Jadi, ketika melihat lanskap bebatuan hitam di sekitar Madinah, itu bukan sekadar batu biasa.
Salah satu kawasan vulkanik yang terkenal adalah Harrat Rahat, sebuah hamparan lava yang membentang luas di sebelah selatan hingga tenggara Madinah. Kawasan ini terbentuk dari aktivitas gunung berapi selama ribuan hingga jutaan tahun. Jejaknya masih dapat dilihat sampai sekarang dalam bentuk bebatuan vulkanik berwarna gelap yang menyelimuti sebagian lanskap di sekitar kota.
Yang lebih menarik, aktivitas vulkanik di wilayah Madinah bukan hanya cerita masa lampau. Salah satu letusan yang tercatat dalam sejarah terjadi pada tahun 654 Hijriah atau sekitar 1256 Masehi. Lava mengalir dari kawasan Harrat Rahat menuju arah Madinah. Peristiwa tersebut menjadi salah satu aktivitas vulkanik bersejarah yang cukup penting dalam catatan kawasan Hijaz.
Bayangkan, di kota yang kini menjadi tujuan jutaan jamaah dari seluruh dunia, terdapat lanskap yang menyimpan jejak kekuatan alam selama ribuan tahun. Pegunungan dan batuan hitam yang terlihat di sekitar Madinah sebenarnya merupakan bagian dari sejarah geologi yang jauh lebih tua daripada bangunan-bangunan yang kita lihat hari ini.
Menariknya lagi, kondisi geografis Madinah juga memiliki kaitan dengan karakter alamnya. Kota ini dikelilingi oleh pegunungan dan kawasan berbatu, sementara lembah-lembah di sekitarnya sejak dahulu menjadi bagian dari lingkungan tempat masyarakat Madinah hidup dan bercocok tanam. Tidak mengherankan jika Madinah sejak masa lalu dikenal memiliki kebun-kebun kurma dan kawasan pertanian yang berkembang di antara lanskap gurun tersebut.
Namun, fakta geologi ini tidak mengurangi sedikit pun makna spiritual Madinah. Justru sebaliknya, ia membuat kita melihat kota ini dari perspektif yang lebih luas. Di satu sisi, Madinah adalah kota yang menyimpan jejak perjalanan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Di sisi lain, tanahnya juga menyimpan jejak panjang proses alam yang berlangsung jauh sebelum kita mengenal kota ini seperti sekarang.
Mungkin selama ini ketika melihat foto Madinah, perhatian kita hanya tertuju pada Masjid Nabawi, kubah hijau, atau lautan jamaah. Padahal, di balik semua itu ada bentang alam yang menyimpan cerita tersendiri. Ada gunung, lembah, dan batuan vulkanik yang menjadi bagian dari identitas geografis kota Nabi.
Pada akhirnya, Tanah Suci selalu memiliki sisi yang menarik untuk dipelajari. Sejarah mengajarkan kita tentang perjalanan manusia, sementara alam memperlihatkan betapa luas dan kompleksnya ciptaan Allah SWT. Dan ketika keduanya bertemu di Madinah, kita tidak hanya melihat sebuah kota untuk dikunjungi, tetapi sebuah tempat yang menyimpan sejarah, spiritualitas, dan jejak bumi yang luar biasa panjang. 🕌

